Bagi para penggemar sim racing, kabar tutupnya layanan Low Fuel Motorsport (LFM) untuk rFactor 2 pada 22 Desember 2023 menjadi pukulan telak. LFM, platform independen dengan sistem ranking tersendiri, selama ini menawarkan pengalaman balap kompetitif dan ketat bagi game-game simulasi yang minim fitur matchmaking.

Kehadiran LFM pada Oktober 2022 awalnya disambut antusias. Terutama bagi sim racer rFactor 2, yang saat itu masih mewajibkan kepemilikan seluruh DLC untuk bermain di server tertentu. Untungnya, kebijakan tersebut dihapus pada Februari 2023, membuat rFactor 2 lebih terbuka bagi pembalap virtual.

Sayangnya, “keretakan” mulai terlihat. “Popularitas layanan rFactor 2 kami menurun drastis di akhir tahun ini,” ungkap LFM dalam keterangan resmi mereka. “Sumber daya tenaga, finansial, dan hal-hal lain untuk mempertahankan layanan demi segelintir peminat tidaklah sebanding. Keputusan ini sulit, tapi kami harus mengalokasikan sumber daya terbatas dengan optimal.”

Penutupan LFM terasa ironis mengingat rFactor 2 memiliki basis komunitas loyal. Game ini dikenal dengan simulasi realistis dan detail trek yang memukau, menawarkan pengalaman balap yang kompleks dan memuaskan. Namun, ia juga tak luput dari kritik.

Cinta dan Benci: Dilema rFactor 2

Para pemain sering menyebut rFactor 2 sebagai game “cinta dan benci”. Di satu sisi, simulasi realistis dan fokus pada aspek teknis memikat para petrolhead sejati. Di sisi lain, antarmuka pengguna yang kurang intuitif, grafik yang tertinggal, dan ekosistem online yang kurang bersahabat bisa terasa kaku dan ketinggalan zaman.

Kurangnya pemain baru yang tertarik pada rFactor 2 mungkin turut berkontribusi pada keputusan LFM. Para developer Studio 397 memang terus menggelontorkan konten dan pembaruan, namun apakah itu cukup?

Sebagai penggemar sim racing sejak 2010 dan belajar di game rFactor generasi pertama, saya merasa sedih dengan kondisi ini. Meski rFactor 2 memiliki keunikan tersendiri, ia perlu beradaptasi agar tidak tertinggal. Mempermudah pengguna baru dan merangkul komunitas bisa menjadi awal yang baik. Akankah rFactor 2 mampu berbenah dan kembali bersinar? Mari kita tunggu langkah selanjutnya dari Studio 397.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Penutupan LFM bisa menjadi indikator tantangan yang dihadapi rFactor 2. Akankah ia mampu mempertahankan para pemain setianya dan menarik peminat baru di tengah persaingan sengit dunia sim racing?

Apakah Studio 397 perlu melakukan perubahan signifikan, baik dari segi teknis maupun aksesibilitas, untuk bersaing dengan kompetitor seperti Assetto Corsa Competizione dan iRacing, atau Rennsports? Hanya waktu yang bisa menjawab.

1 komentar
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftar ke Buletin Kami

Dapatkan update berita dan informasi terbaru langsung ke inbox email kamu

Artikel Menarik Lainnya

Dakar Desert Rally: Flatout di Gurun Pasir, Game Gratis Epik di Epic Games Store!

Bagi para gamer, Epic Games Store sudah menjadi platform favorit untuk mendapatkan…

Summer Sale Tiba! Berikut Game Balapan Yang Diskon Besar

Steam Summer Sale yang sangat dinanti-nantikan akhirnya tiba. Acara tahunan ini adalah…

EA Umumkan Tanggal Rilis F1 24 dan Fitur Barunya

Electronic Arts (EA) telah membuat penggemar balapan antusias dengan pengumuman game terbaru…