Meskipun sim racing membawa pengalaman yang realistis dan imersif, kategori ini belum mencapai tingkat popularitas yang sama seperti kategori esports lainnya seperti Mobile Legends, Valorant, dan Counter-Strike. Beberapa faktor berkontribusi pada perbedaan ini, mulai dari aksesibilitas dan daya tarik penonton hingga elemen teknologi dan komunitas.

Relatif Mahal Untuk Mulai

  1. Biaya Peralatan:
    Sim racing memerlukan investasi signifikan dalam perangkat keras. Setup sim racing berkualitas tinggi biasanya mencakup setir balap, pedal, PC atau konsol gaming, dan kadang-kadang kursi balap khusus. Peralatan ini bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta Rupiah.

    Walaupun hal ini masih bisa diperdebatkan karena untuk mulai sim racing tidak perlu perangkat yang mahal, bahkan dengan mouse atau gamepad pun kita bisa mulai. Cukup dengan konsol atau PC dengan meja sederhana ditambah gamepad pun kita bisa mulai. Kita juga bisa datang ke rental sim racing yang mulai bertebaran di Indonesia.

    Sebaliknya, game seperti Mobile Legends, Valorant, dan Counter-Strike membutuhkan investasi yang jauh lebih sederhana, seringkali hanya terbatas pada PC standar atau perangkat seluler.

    Image “mahal” di dunia balap aslinya pun terbawa ke virtual.
  2. Pengetahuan Teknis:
    Mengatur dan mengoptimalkan peralatan sim racing bisa menjadi tugas yang menakutkan bagi pemula. Memastikan kompatibilitas, mengonfigurasi pengaturan, dan memelihara perangkat keras memerlukan tingkat keahlian teknis yang dapat menghalangi pemain potensial. Sebagai perbandingan, judul esports lainnya menawarkan pengalaman yang lebih plug-and-play, menurunkan hambatan untuk masuk.

Daya Tarik Penonton dan Pengalaman Penonton

  1. Keterlibatan Visual dan Penonton:
    Game seperti Mobile Legends, Valorant, dan Counter-Strike dirancang dengan aksi cepat dan visual yang menarik yang memikat perhatian penonton. Pertandingan mereka menampilkan pergeseran momentum yang sering dan dramatis, membuatnya menarik untuk ditonton. Sim racing, meskipun mendebarkan bagi para penggemar, mungkin terlihat monoton bagi penonton biasa, karena balapan bisa panjang dan dinamika visualnya kurang bervariasi.
  2. Pemahaman dan Aksesibilitas:
    Mekanik dan strategi dari game esports populer relatif mudah dipahami oleh penonton rata-rata. Di sisi lain, sim racing membutuhkan pemahaman tentang prinsip balap, mekanika mobil, dan dinamika trek untuk sepenuhnya menghargai keterampilan yang terlibat. Kurva belajar ini dapat membuat penonton potensial yang tidak memiliki latar belakang atau minat dalam motorsport merasa terasing.

Faktor Komunitas dan Budaya

  1. Komunitas Niche:
    Sim racing, meskipun memiliki komunitas, lebih bersifat niche dibandingkan dengan basis pemain yang masif dan beragam dari esports lainnya. Game seperti Mobile Legends, Valorant, dan Counter-Strike memiliki daya tarik yang luas di berbagai demografi dan wilayah.
  2. Dampak Budaya:
    Tidak semua negara mempunyai budaya motorsports, terutama Indonesia dan negara Asia Tenggara. Untuk menjadi penonton di sebuah balapan motor atau mobil, harga tiket masih dianggap terlalu mahal bagi sebagian orang. Jika dibandingkan dengan olahraga lain yang populer seperti Sepakbola dan Bulutangkis, harga tiket masih kalah bersaing.

    Untuk merasakan balapan pun bagi sebagian orang masih dianggap mahal. Sewa gokart sekitar Rp 100.000 lebih untuk balapan selama 8 menit.

Pasar dan Promosi

  1. Pemasaran dan Sponsor:
    Judul esports lain mendapat manfaat dari anggaran pemasaran yang besar dan kesepakatan sponsor. Game-game ini didukung oleh perusahaan game besar dengan sumber daya yang luas untuk promosi dan organisasi acara. Sim racing, meskipun memiliki ikatan dengan industri otomotif, tidak menerima tingkat pemasaran dan dukungan komersial yang sama agresifnya.

    Beberapa event lokal di Indonesia sudah mempunyai banyak sponsor otomotis. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah penonton, sim racing masih kalah jauh dengan esports lain.
  2. Infrastruktur Esports:
    Infrastruktur untuk mengorganisir dan menyiarkan acara sim racing masih berkembang. Meskipun ada liga dan acara sim racing terkemuka, mereka tidak sebanding dengan skala dan kecanggihan dari acara esports lainnya. Nilai produksi, jangkauan, dan keteraturan turnamen besar game lain berkontribusi pada dominasi mereka di arena esports.

Kesimpulan

Popularitas sim racing yang relatif lebih rendah dibandingkan kategori esports lainnya seperti DoTA, Mobile Legends, atau Valorant adalah hasil dari beberapa faktor yang saling terkait. Biaya masuk yang tinggi, persyaratan teknis yang kompleks, dinamika yang kurang ramah penonton, daya tarik komunitas niche, dan upaya pemasaran yang terbatas semuanya berperan dalam membentuk lanskap saat ini. Meskipun sim racing terus tumbuh dan berkembang, mengatasi tantangan ini akan menjadi kunci untuk meningkatkan statusnya di dunia kompetitif esports.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftar ke Buletin Kami

Dapatkan update berita dan informasi terbaru langsung ke inbox email kamu

Artikel Menarik Lainnya

Sirkuit Sentul: Simbol Semangat Balap Indonesia

Berdiri kokoh di Bogor, Jawa Barat, Sentul bagaikan kuil bagi para pecinta…

Balapan Digital: Realistis Vs Asyik, Pertarungan Ego atau Pencarian Sensasi?

Diskursus mengenai preferensi dalam genre game balapan bagaikan perlombaan abadi, dengan dua…

Mengenal Rally: Sejarah, Jenis, dan Karakteristik

Rally adalah salah satu cabang olahraga otomotif yang penuh tantangan, melibatkan kompetisi…